Senin, 04 Juni 2018

dari hati


Dari hati untuk suri tauladanku
Dalam gelap aku mengeja diri
Menyusuri sebuah perjalanan
Mencium aroma keimanan
Yang harus tumbuh berakar dalam sukma ini
                        Semesta membisikkan kabar gembira
                        Cakrawala mempersilahkanmu
                        Tujuh pintu langit beraltar menyambutmu
                        Menghantarmu untuk sampai ke sidratul muntaha
Yaa Rosulalloh…
Imanku bergetar..
Lidahku kelu..
Dan lututku seakan patut untuk bergertak segertak-gertaknya
Meyakini kabar isra dan mi’rajmu
Yaa Rosulalloh..
Sungguh mata ini tak pernah melihatmu
Yang senyumnya indah merekah bak sinar mentari
Yang akhlaknya melebihi rembulan dimalam hari
Betapa rindu hati ini tuk bertemu denganmu
Namun aku sadar..aku sadar..aku sadar..
Belum pantas diri ini menjadi pecintamu
Tak ada yang bisa ku banggakan..
            Aku tertegun…
            Ku telusuri setiap relung hati..
Mererobos dalamnya ruang jiwa
Dimanakah letak sebuah kebenaran nurani?
Batinku gerimis..
Akankah kau anggap aku sebagai ummatmu?
Akankah kau sambut tangan ini dengan hati penuh cinta?
Akankah kau lihat aku dengan mata penuh kasih?
Akankah kau tersenyum padaku dengan penuh kebanggaan?
Andai kau ada dihadapanku saat ini..
Sungguh gundah gulana takkan kurasakan
Aku akan tau jawabnya…
Yaa rosulalloh..
Betapa aku takut kau berpaling dariku
Betapa aku takut kau tak mengenaliku
Betapa aku takut kau menjauh dariku
Disaat aku memanggilmu di padang mahsyar
Yaa rosulalloh..ya rosulalloh..yaa rosulalloh
Ketika badan bermandi peluh
Ketika tubuh bersimbah darah
Ketika mentari tepat diatas kepala
Ketika aku mulai putus asa..
Kau menjauh…menjauh tinggalkanku
Assholatu wassalaamu ‘alaika yaa Rosulalloh
Assholatu wassalaamu ‘alaika yaa Nabiyyalloh
Assholatu wassalaamu ‘alaika yaa Habiiballoh
Sungguh aku ingin cintamu..
Aku ingin kau giring aku sebagai ummatmu
Aku ingin mendapat syafaatmu