Dari
hati untuk suri tauladanku
Dalam gelap aku
mengeja diri
Menyusuri
sebuah perjalanan
Mencium aroma
keimanan
Yang harus
tumbuh berakar dalam sukma ini
Semesta membisikkan
kabar gembira
Cakrawala
mempersilahkanmu
Tujuh pintu langit beraltar
menyambutmu
Menghantarmu untuk
sampai ke sidratul muntaha
Yaa Rosulalloh…
Imanku
bergetar..
Lidahku kelu..
Dan lututku
seakan patut untuk bergertak segertak-gertaknya
Meyakini kabar
isra dan mi’rajmu
Yaa
Rosulalloh..
Sungguh mata
ini tak pernah melihatmu
Yang senyumnya
indah merekah bak sinar mentari
Yang akhlaknya
melebihi rembulan dimalam hari
Betapa rindu
hati ini tuk bertemu denganmu
Namun aku
sadar..aku sadar..aku sadar..
Belum pantas
diri ini menjadi pecintamu
Tak ada yang
bisa ku banggakan..
Aku tertegun…
Ku telusuri setiap relung hati..
Mererobos
dalamnya ruang jiwa
Dimanakah
letak sebuah kebenaran nurani?
Batinku
gerimis..
Akankah
kau anggap aku sebagai ummatmu?
Akankah
kau sambut tangan ini dengan hati penuh cinta?
Akankah
kau lihat aku dengan mata penuh kasih?
Akankah
kau tersenyum padaku dengan penuh kebanggaan?
Andai kau ada
dihadapanku saat ini..
Sungguh gundah
gulana takkan kurasakan
Aku akan tau
jawabnya…
Yaa
rosulalloh..
Betapa aku
takut kau berpaling dariku
Betapa aku
takut kau tak mengenaliku
Betapa aku
takut kau menjauh dariku
Disaat aku
memanggilmu di padang mahsyar
Yaa
rosulalloh..ya rosulalloh..yaa rosulalloh
Ketika badan
bermandi peluh
Ketika tubuh
bersimbah darah
Ketika mentari
tepat diatas kepala
Ketika aku
mulai putus asa..
Kau menjauh…menjauh
tinggalkanku
Assholatu
wassalaamu ‘alaika yaa Rosulalloh
Assholatu
wassalaamu ‘alaika yaa Nabiyyalloh
Assholatu
wassalaamu ‘alaika yaa Habiiballoh
Sungguh aku
ingin cintamu..
Aku ingin kau
giring aku sebagai ummatmu
Aku ingin
mendapat syafaatmu